
Terimakasih juga ya sudah mau ingat untuk berbagi bahwa tidak semua harta kita adalah milik kita.
“Will I be something?
Am I something?
And the answer comes:
You already are.
You always were.
And you still have time to be.”
Katanya, menjadi dewasa itu mampu menganggap hal baru adalah sesuatu yang exciting dan pasti ada solusinya meski terkadang berat. Kalau boleh pilih, nggak mau deh harus make a big decision. Tapi, adulthood is a part of life and you will not be able to escape. Jadi hadapi. Wedeh.

Kadang bikin ngga nyaman tiap ada orang sarkas apalagi di sosial media “dateng ke pameran seni kaya ngerti aja” “ah paling selfi doang” “fotoin aku dong disini disitu”. Bukan karena merasa i am one of them yang foto-foto doang lalu pembelaan tapi aku yakin aja segimananya niat orang kesitu buat foto doang, dia pasti melihat dan menjadikan karya seni itu sebagai objek yang dia pilih untuk berfoto bukankah itu adalah bentuk apresiasi juga? Pasti di dalam otak mereka bilang “wah bagus juga ini”. Ketimbang sinisin orang doang yang dateng ke pameran seni itu lebih bad thing menurutku , effort buat dateng aja ngga.
![]() |
| Foto ini tuh ya.......... Bikin malu aja hahaha |
Nyasar terus,
Enjoy your jump!
Semakin jauh kau pergi
Semakin banyak manusia kau temui
Semakin yakin dan sadar hanyalah orangtua
sebagai satu-satunya manusia yang paling bisa
mengerti dan tak kan pernah khianati
Meski terkadang tak kau hiraukan ribuan nasehatnya
Meski kau selalu memilki versi tersendiri
tentang bagaimana seharusnya orangtua yang sempurna
Kau keluhkan sikap mereka yang terkadang tidak sesuai
dengan inginmu
Namun hanya mereka yang benar-benar
menganggapmu berarti
Bukanlah teman, bukan saudara, bukan atasan,
bukan teman kerja atau bahkan bukan abang ojek
yang sukanya nunduk-nunduk terimakasih
saat kita balikin helmnya
Okelah semakin kebawah tulisan ini semakin kembali tidak baku
Tapi kau mengerti kan? Baktimu untuk siapa seharusnya kau berikan.
-
Pagi menjelang siang, ditulis ditengah-tengah kehidupan baru.
Gambar sendiri berantakan tapi ku banggakan
Oh ya, berdasarkan pembagian dari total 28 orang, kami berenam tinggal di Teluk Sulaiman, bagian kampung dari Kecamatan Biduk-Biduk yang paling ujung karena letaknya memang terakhir di seluruh kampung yang ada di daratan Biduk-Biduk. Karena nggak ada sinyal sama sekali, penduduk selalu pergi ke dermaga yang mereka sebut "Ujung" karena lokasinya yang berada di paling ujung kampung sekitar 2 kilometer dari pondokan kami. Fungsi dermaga untuk tempat singgah kapal yang berkembang jadi destinasi wisata dan media penyebrangan menuju Teluk Sumbang. Sunset dan sunrise disini juga sama-sama menakjubkan :)
Hampir setiap hari dermaga kami kunjungi untuk sekedar telpon keluarga di rumah atau teman yang sama-sama lagi KKN. Ketika kami berkunjung ke kelompok di kampung lain, terbukti tempat kami dan Teluk Sumbang yang paling parah sinyalnya. Jadi, kami selalu memanfaatkan saat berkunjung untuk nelpon-nelpon, beli paket data yang sehari buat buka internet cari bahan materi program ataupun posting instagram haha. Seringnya diantara kami berenam cari-cari alasan mau ke kampung lain entah koordinasi program, ngerjain bareng sampe mau numpang nyuci karena nggak enak minta air ke tetangga yang sama-sama minimnya. Biasanya satu atau dua orang pergi yang lainnya ikut pergi haha. Pernah suatu hari belum lengkap, rasanya uring-uringan pengennya komplit semua dirumah kalo udah malem. Alat transportasi yang kami gunakan disana adalah 2 motor yang dipinjamkan oleh warga untuk kami berenam. Jadi, bonceng tiga selalu.
Penduduk disana juga menggunakan motor tanpa helm. Biasanya mereka gunakan hanya untuk mengantar anak ke sekolah, pergi ke dermaga ataupun ke kampung lain. Oh ya, jarak antar kampung itu lumayan jauh walaupun naik motor dan jalannya hanya lurus saja tidak ada belokan, karena rumah-rumah disana tidak banyak, polanya berderet sepanjang jalan dan hanya ada satu sampai 3 layer saja itupun tidak rapat. Kondisi jalan udah beraspal tapi masih di beberapa spot yang berlubang.

Uniknya, karena kami selalu bonceng tiga, salah satu dari yang bonceng harus selalu waspada kakinya bisa kena pup sapi. Yes! Disana, warganya punya sapi, karena dapat bantuan ternak dari pemerintah. Namun karena hewan itu hasil pemberian jadi banyak warga yang nggak bikin kandang dan dibirkan berkeliaran di mana aja termasuk di jalanan. Jadi pup dimana aja deh. Tapi hebatnya nggak ada yang hilang, jangankan sapi, kunci motor masih gantung aja tetep aman, sebolong-bolongnya pondokan kita pun damai sentosa padahal banyak barang elektronik kami yang tergeletak dimana aja. Sebagian besar penduduknya cari makan dari laut, ada yang bikin kapal, jual ikan, buka warung dan kerja di kantor kampung jadi PNS. Kalau bahan untuk masak ada yang keliling pakai motor jualan sayur bahkan pakai vixion. Mahal udah pasti, kalau nggak lupa, 2 buah wortel kurus harganya 10ribu.
Kalau diceritakan satu-satu bisa sampai series ceritanya haha karena banyak sekali yang kami lalui disana, banyak sekali momen "my first time" ku disana, kaya, bakar ikan, berenang di laut lepas, snorkling, melatih saman anak-anak lokal untuk tampil, nyetir kapal motor punya Acha, mancing di laut, ketemu nemo dan penyu, kulineran makanan khas yang belum pernah ku makan dan masih banyak banget yang lainnya. Paling terbesar adalah momen lebaran jauh dari keluarga karena 2 minggu terakhir puasa kami sudah disana dan berlebaran bersama disana.
Keterbatasan sinyal, air, listrik dan fasilitas-fasilitas yang biasanya kami dapat, bikin kami jadi merasakan hal yang berbeda dan lebih quality time bersama dan berbagi cerita juga dengan anak-anak disana yang selalu datang ke pondokan kami, tanpa hape tanpa social media. Banyak hal-hal aneh bin ajaib yang sebetulnya bodoh tapi ngakak-able. Tiba-tiba ada yang ban bocor pas ke hutan, baling-baling kapal patah pulang dari Teluk Sumbang, lagi bonceng tiga dengan damai tiba-tiba motor oleng parah karena ban pecah sampe salah satu anak yang main ke pondokan lagi becanda tiba-tiba jatoh dan sikunya disposisi. Disana nggak ada rumah sakit, adanya puskesmas pembantu dan sebagian besar penduduknya nggak dokter oriented.
Disana aku juga punya buku ajaib, semacam diary yang isinya daftar kegiatan yang udah dilakukan tiap harinya. Bukunya masih aku simpen sampe sekarang. Pulang darisana ada yang nangis nggak mau ditinggal dan nggak mau ninggalin. Pulang-pulang jadi gosong maksimal, belum ngerti pentingnya sunblock walopun lagi nggak ke laut. Karena kebanyakan fotonya, ini beberapa kenangan kami disana.
.
Setelah selesai, kelompok kami ber 26 orang memutuskan untuk berlibur ke Maratua dan Derawan sebelum kembali ke Jogja. Mungkin nanti next post aku story telling lagi ya hehe.
Padahal udah hampir 2 tahun berlalu, tapi komunikasi kami masih lancar dengan beberapa warga disana terutama anak-anak masih telpon, apalagi si Memet paling rajin.
See you soon, Telsu!
*beberapa foto captured oleh teman-temanku yang rajin mendokumentasikan
"tenang aku ga nyuruh cepet ini cepet itu ato semoga cepet ini ato cepet itu, santai saja enjoi life stay positive perbanyak makan n olahraga rajin rajin ke gereja n jauhi narkoba maka semua akan ditambahkan bagimu. Amin. Selamat :)"
Mungkin kita sering lupa kalau hidup bukan lomba cepet-cepetan. Hari ini temanmu menang undian jalan santai dapet sepeda gunung, kamu di rumah berhasil masak ayam rica-rica. Tiap manusia beda jatah dan beda waktu mendapatkan jatahnya. Tapi tiap manusia juga berbeda-beda tingkatan sadar akan pentingnya bersabar. Merasa usaha udah mati-matian dan doa setiap waktu bahkan saat hujan turun juga nggak lupa memanjatkan doa, tapi nggak juga dapet yang di damba. Tuhan itu baik, percaya dan berprasangka baiklah pada-Nya.
Beberapa minggu kemaren saat di Jogja aku sadar akan kekuatan percaya sama pencipta kita. (mungkin pernah ada momen lain tapi paling terakhir yang aku ingat momen ini). Yaitu saat nggak sadar uangku menipis karena keluarin tanpa perhitungan buat bayar biaya test dan keperluan bahan kain jualan jadi buat hidup sampe 2 minggu lagi nggak akan cukup, beneran, udah di hitung juga oleh seseorang lain. Awalnya setelah tahu kenyataan aku diem, dalam hati agak kuatir gimana nanti keseharian buat besok belum juga beli bensin, bayar laundry sama beli galon haha. Akhirnya pasrah aja dan jadi beneran nggak kuatir lagi kalo uang sangat tipis karena pada saat itu entah apa yang membuat yakin bahwa ada Allah yang akan bantu. Cara kita dalam merespon problem emang bukan dengan meratapi tapi cari solusi. Akhirnya mikir gimana caranya dapet uang, yaitu: bongkar celengan dan berniat jualin barang kosan kaya lemari, meja dan sleeping bag.
Kemudian belum sampe 2 minggu, udah waktunya bayar kosan karena aku akan melebihi seminggu dari batas akhir aku ngekos. Tiba-tiba Ibu kirim uang buat bayar kos, tapi setelah nanya ke Ibu kos harus bayar berapa karena akan melebihi seminggu ngekos, katanya nggak perlu bayar. See? Bantuan Allah selalu datang dengan cara yang tidak bisa kita duga. Belum sempat jual barang-barang, baru bongkar celengan aja haha.
Banyak sekali partikel-partikel di hidup kita yang perlu kita syukuri. Kita hidup di negara yang bebas perang, masih unemployed yaudah usaha aja terus karena nggak akan ada penyerangan bom yang sewaktu-waktu bisa aja dateng kaya di Suriah. Kalau lapar ke meja makan belum ada makanan bisa masak mie karena kompor gas tinggal ceklek atau bahkan pesen makanan lewat ojek online. Haus tinggal ambil air buka kulkas nggak perlu jalan jauh berpuluh-puluh kilometer bawa ember kaya anak-anak di Afrika Selatan.
Mari sama-sama belajar bersyukur. Kejarlah akhiratmu maka dunia akan mengikuti. Kalau lirik lagu "Serahkanlah hidup dan matimu, serahkan pada Allah semata agar damai senantiasa hatimu"
Semakin bertambah usia semakin banyak tahapan baru di depan. Suatu hari itu lagi ngobrol random dengan seorang teman yang bercerita tentang betapa senangnya menddenger cerita orang yang tidak sabar menunggu pagi untuk bangun pagi dan bekerja mencurahkan seluruh waktunya untuk sesuatu yang memang mereka sukai.
Pergerakan sekecil apapun itu. Misalnya suatu hari aku dan Reni memutuskan untuk keluar kosan, jalan-jalan cari kain lalu ke penjahit ternyata dikasih tau sama penjahit harga kain yang murah dan di jalan malah nemu toko kain terus nemu bahan baru buat jadi ide koleksi baru. Masuklah kami pada track yang benar untuk menuju jualan yang berkelanjutan hahaha syukur Alhamdulillah jika ada hal besar yang bisa dituai di hari kemudian.
Hal yang dilakukan nggak melulu tentang Mimpu Kali Ye!: "aku akan membuat desa baru dengan mesin hujan makanan seperti di film dan mesin penyaring udara menjadi steril". Namanya juga track, kalau langsung sampe temenan sama Bagus aja minta dikenalin sama Jinny Oh Jinny. Langkah demi langkah Insya Allah si Mimpi Kali Ye! bisa jadi Mimpi Ku Nih Ye! Hahahah semakin ngaco.
Kemaren-kemaren lagi sering nonton Ted Talks, yang salah satu videonya mengatakan bahwa apapun yang akan dikerjakan carilah "something valuable" tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Selamat bertualang dalam menemukannya karena jangan lupa hidup kita tidak sendirian jangan sampai menjadi hampa karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk orang lain.
















